Archive for ‘tausiah’

03/11/2013

JULAIBIB

TAHUKAH ENGAKU SIAPA JULAIBIB ?

=Bismillah=

Kita harus merasa malu dan juga kecewa jika kita tidak mengenal sosok-sosok yang suka merahasiakan amal. Padahal, pada waktu yang sama kita dapat mengenali secara mendetail kisah orang-orang yang punya nama dari kalangan politikus, artis, pemimpin, tokoh sastra, seni dan lainnya.

read more »

11/05/2012

Kapan kita harus beribadah?

Beberapa minggu yang lalu ada kalimat yang membuat saya cukup tersindir dalam ceramah jumat sang khotib. Saat jumatan di masjid dekat kos-kosan ini khotib menjelaskan bahwa saat ini kita sudah terlalu sibuk dengan urusan dunia namun dalam taraf yang berlebihan. Rasululloh saja menyuruh kita mengejar dunia seakan hidup 1000 tahun lagi. Tapi jangan dilupakan sambungannya, kita juga diharapkan beribadah seakan mati esok hari.

read more »

17/11/2011

Menjaga keimanan

Menjaga keimanan seperti orang yang sedang menggunakan pakaian putih. DIa tidak semabarang duduk untuk menjaga pakaiannya agar tetap bersih

17/11/2011

Cerita Pemuda Ahli Ibadah Menghadapi Kemaksiatan

Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya, “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu!”

read more »

03/05/2011

cara menghadapi cobaan hidup

Setiap manusia yang hidup di dunia ini tak kan pernah luput dari cobaan. Dengan cobaan itu dapat diketahui sampai sejauh mana kualitas iman seseorang kepada Allah.
Kiranya kita tak perlu berkecil hati jika suatu saat kita mendapat cobaan dari Allah. Karena itu bukan berarti Allah telah benci atau tidak peduli lagi terhadap kita. Justru cobaan-cobaan itu membuktikan, bahwa Allah suka dan sayang kepada kita. Semakin kita disayang, semakin berat pula cobaan yang kita terima.

Hal diatas dapat kita buktikan sendiri melalui kisah-kisah para Nabi, yang walaupun beliau-beliau (para Nabi) itu merupakan kekasih-kekasih Allah, namun sungguh berat cobaan yang diberikan kepada mereka, jauh lebih berat dari yang kita terima. Kita bisa membaca (dalam Al-Qur’an) kisah Nabi ibrahim yang disuruh menyembelih putranya sendiri yang sangat dicintainya,

Kisah Nabi Ayyub yang dimusnahkan seluruh harta kekayaannya dan keturunannya serta terserang penyakit menular yang sangat menjijikan sehingga tak seorangpun kaumnya yang mau mendekat kepadanya,

Kisah Nabi Nuh yang selama ratusan tahun (Nabi Nuh berusia 950) berdakwa tapi hanya mendapat pengikut yang amat sedikit (70 atau 80 orang saja),

Kisah Nabi Muhammad yang dilempari kotoran unta dan batu hingga berdara mukanya dan diboikot perekomunian untuknya dan keluarganya hingga kekurangan bahan makanan, dan sebagainya.

Kalau kita mau bersabar sejenak dan berpikir secara lebih mendalam, kiranya kita akan mendapati kenyataan, bahwa di balik cobaan-cobaan yang nampaknya tidak menyenangkan itu terdapat hikma dan kebaikan yang besar. Hal ini sebagai mana yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ Ayat 19, yang artinya:
“BOLEH JADI KAMU TIDAK MENYUKAI SESUATU, PADAHAL ALLAH MENJADIKAN PADANYA KEBAIKAN YANG BANYAK”
Menurut kebanyakan ahli filsafat (filosof) islam, pengertian sabar itu terbagi menjadi 5 macam, yaitu:

1. Dalam beribadah.
Yakni dengan tekun dan telaten mengerjakan setiap rukun, syarat-syarat dan tata tertib ibadah yang sedang dikerjakannya. Menurut Imam Al-Ghozali, ada tiga hal yang barus diperhatikan dalam melaksanakan suatu ibadah, yaitu:
1. Harus didahului niat yang suci, ikhlas semata-mata karena Allah
2. Memperhatikan dan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan, dan juga hal-hal lain baik yang wajib maupun yang sunnat.
3. Tidak bersifat Riya’ setelah melaksanakan ibadah tersebut.

2. Sabar di timpa bencana.
Yakni teguh hati dan menerima dengan ikhlas ketika tertimpa suatu bencana. Karena sabar atau tidak sabar, bencana tetap akan terjadi. Tetapi dengan bersikap sabar, maka beban yang harus ditanggung akan terasa lebih ringan.

3. Sabar terhadap kehidupan dunia.
Yakni tidak mudah tergoda oleh tipu daya dunia, yang kalau dilihat secara lahiriyah penuh dengan kenikmatan dan kesenangan yang memabukan (dapat melupakan manusia kepada tujuan hidup yang sebenarnya). Padahal sebenarnya dunia ini hanya merupakan alat, bukan tujuan.

4. Sabar terhadap maksiat.
Yakni mengendalikan diri sendiri dan juga orang lain dari melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat agama.

5. Sabar dalam berjuang.
Yakni dengan menyadari sepenuhnya, bahwa perjuangan atau usaha itu ada pasang surutnya. Sehingga tidak sombong atau takabbur jika sedang pasang, dan tidak berputus asa jika sedang surut.

Sumber: http://mulyliani.blogspot.com/2010/05/cara-cara-menghadapi-cobaan-dalam-hidup.html

del.icio.us
Tags:
11/03/2011

hukum menbajak barang orang lain baik fotocopy buku ataupun software dlsb

Oleh:
Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah, KSA

a. Pertanyaan ke-2 dari fatwa no. 18845
Soal: Apakah saya boleh merekam salah satu kaset dan menjualnya, tetapi tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pemegang hak, paling tidak kepada rumah produksi yang khusus mengurus hak rekaman? Dan apakah saya boleh memfotocopy salah satu buku dan mengumpulkannya dalam jumlah besar dan setelah itu menjualnya? Dan bolehkah saya memfotocopy salah satu buku tetapi tidak untuk menjualnya, tetapi saya mengoleksinya untuk keperluan pribadi. Sementara buku-buku ini mencantumkan tulisan “Hak cipta dilindungi”. Apakah saya perlu meminta izin atau tidak? Tolong beritahu kami mengenai masalah ini, mudah-mudahan Allah memberikan berkah kepada anda.

Jawab: Tidak ada larangan merekam kaset yang memuat hal-hal yang bermanfaat dan menjualnya, juga memfotocopy buku-buku dan menjualnya. Sebab, hal itu dapat membantu menyebarkan ilmu pengetahuan, kecuali jika pemegang haknya melarang melakukan hal tersebut, dan karena harus meminta izin kepada mereka.

Wabillahi taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

b. Fatwa no. 18453
Soal: Saya bekerja di bidang computer. Sejak saya mulai bekerja di bidang computer ini, saya biasa mengcopy dan menginstall program untuk bias dijalankan. Hal ini saya lakukan tanpa membeli CD yang berisi program asli. Perlu diketahui, pada CD tersebut terdapat peringatan yang menyebutkan “Hak cipta dilindungi”, yang menyerupai istilah yang tertulis dalam buku “All right reserve” (semua hak cipta dilindungi). Pemilik program ini bias seorang Muslim dan bias juga kafir. Pertanyaan saya, apakah boleh mengcopy (atau menginstall) dengan cara seperti ini atau tidak?

Jawab: Tidak boleh mengcopy (menginstall) program yang pemegang hak ciptanya melarang, kecuali dengan izin mereka. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

المسلمون على شروطهم
“Tidak dihalalkan harta seorang muslim kecuali yang diberikan dari ketulusan hatinya yang dalam” (HR. Baihaqi dalam Sunan-nya VIII/182; Ahmad V/276 no. 15488; Ad-Daruquthni II/602 no. 2849-2850. Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 1459).

Demikian juga dengan sabda beliau:”Barangsiapa yang lebih dulu pada suatu hal yang mubah, maka dialah yang paling berhak terhadapnya”.
Baik pemegang hak cipta program itu seorang muslim maupun kafir yang bukan harbi, karena hak orang kafir yang bukan harbi harus juga dihormati, sebagaimana halnya dengan hak seorang muslim.

Wabillahi taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Sumber: Fatawa Lajnah Daimah lil Buhuts, kitab Buyu’ .

original resource from here

07/03/2011

dua penutup (tirai) maksiat

 

Tirai penutup maksiat itu terbagi dua;
Tirai dari maksiat, dan tirai di dalam maksiat. Umumnya orang mencari tirai dari Allah Ta’ala, agar tertirai di dalam maksiat, karena takut martabatnya jatuh di mata publik. Sedangkan kalangan khusus mencari tirai dari maksiat, karena takut bila gugur dari pandangan Allah ta’ala
Orang yang bermaksiat kebanyakan ingin tertutup dari makhluk, bisa karena malu, atau karena gengsi ataupun karena takut harga dirinya jatuh. Tirai atau tutup itu disebut sebagai tutup di “dalam maksiat”. Bagi kalangan ini, tutup di dalam maksiat berarti tidak memandang Allah swt, namun lebih memandang kepentingan derajat makhluk atau harga diri kemakhlukan.
Disinilah orang yang maksiat ini tidak memandang celaan dari Allah Ta’ala – awal hingga akhirnya – dan menumbuhkan riya’, berbagus diri di hadapan makhluk, bukan di hadapan Allah Ta’ala. Hal demikian disebabkan oleh pendeknya himmah(tujuan) mereka dan minimnya iman mereka.
Sedangkan kalangan khusus, sejak awal justru lari dari maksiat, kalau toh pun mereka mencari tirai, itu karena dalam proses perjalanannya, ingin sekali terhindar dari maksiat. Dalam konteks inilah disebut mencari “tutup dari maksiat”. Mereka bermotivasi agar terhindar dari maksiat, ada beberapa kategori:
1. Bisa mencari tutup karena takut akan siksaNya.
2. Bisa mencari tutup karena takut akan hijabNya. Dan,
3. Bisa karena takut akan kehilangan pahala dariNya atau ridhaNya.
Ada pula mencari tirai karena khawatir terlempar dari pintuNya; atau dari sisiNya, dan sebagainya, dan semua itu kembali karena ketakutan kalangan khusus ini jika tidak dipandang lagi oleh Allah Ta’ala. Karena mereka bisa kehilangan banyak kebajikan, sekaligus banyak keburukan tiba.
Yang paling agung adalah mereka mencari tutup dari maksiat karena rasa takut luar biasa akan Kharisma Ilahi, karena rasa malu, rasa mengagungkan kepadaNya. Bahkan seandainya Allah Ta’ala mengampuni semua dosa-dosanya sekalipun, rasa malunya kepada Allah Ta’ala serasa tak pernah sirna. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Fudhail bin ‘Iyadh ra, “Duh betapa malunya kepadaMu…walau Engkau telah mengampuni…”
Bila saja faktor penghambat maksiat itu justru datang karena tirai dari maksiat, maka jika makhluk lain memuliakan kita, tetap saja kembali pada TiraiNya, bukan pada diri kita, baik kita orang yang taat maupun orang yang maksiat.
Makanya Ibnu Athaillah mengingatkan:
“Siapa pun yang memuliakan anda , sesungguhnya ia telah memuliakan yang ada di dalam dirimu berupa keindahan TiraiNya. Karena itu pujian seharusnya kepada yang menutupi anda, dan pujian bukan pada orang yang memuliakan anda atau bukan kepada yang mengucapkan terimakasih kepada anda.”
Banyak orang balik memuji orang yang memuji nya atau berterimakasih pada nya. Padahal seharusnya pujian itu kepada yang menutupi aib dan kekuarangan nya, yaitu Allah Rabbul Izzah Ta’ala. Karena tanpa tirai tutupnya yang indah pada nya, tak satu pun menghargai dan mengormati nya. Karena itu ada pepatah Sufi yang indah:
Di sana tak ada lain kecuali karena karuniaNya,
dan tak ada kehidupan melainkan karena ada dalam tiraiNya.
Jika saja tirai itu dibuka,
pastilah terbuka cacat besar yang tiada tara.
Manusia itu, pada aslinya adalah tempatnya kurang dan cacat. Baik orang tersebut ahli ibadah maupun ahli maksiat. Baik orang itu sedang mendapatkan nikmat atau cobaan.
Maka kita wajib memuji Allah swt, yang menutupi diri kita dengan tutupNya yang indah itu.
Tags:
06/03/2011

Televisi itu hukumnya haram menurut Syaikh Al Albani

televisi akan terasa manfaatnya jika dimatikan..

berikut ulasan bahaya dari televisi…

———————————————————————————————————————————————-

Tidak berlebihan bila perangkat elektronik ini disebut “kotak ajaib”. Ya, televisi! Sebuah perangkat hiburan dan informasi yang menyajikan beragam materi mulai dari peristiwa yang benar-benar terjadi, hingga pada sajian-sajian khayal yang melampaui batas imajinasi kita. Demi merangkul sebanyak mungkin penonton, maka segala hal yang bisa dilakukan, akan ditempuh. Saat itulah acara-acara ini tidak lagi mengindahkan batasan norma,etika, dan agama.

Maka mengingat pada sebuah ucapan nabi kita “Agama seseorang dilihat dari siapa sahabatnya” , khazanah ilmu ini cukup menjelaskan wujud keadaan masyarakat yang memiliki kesamaan identitas dengan fenomena televisi. Karena televisi telah menjadi sahabat pebuhbagi manusia modern saat ini. Berikut adalah beberapa jenis acara televisi yang merusak, agar kita bisa belajar dan mengapa kita perlu mematikan televisi kita.

Talk Show.

Sedang terjadi obrolan antara pembawa acara dengan narasumber perwakilan LSM yang mengkampanyekan penanggulangan penyebaran HIV , dengan berhubungan sex secara aman. Kampanye dengan pembagian kondom gratis tersebut, tidak menyebutkan dengan tegas bahwa hubungan seksual mutlak hanya boleh dilakukan dalam ikatan pernikahan. Justru yang ditonjolkan adalah anjuran memakai kondom untuk seks yang aman. Tidakkah mereka yang berkampanye itu sadar bahwa dengan kondom sebagai alat solusi norma, membenteuk persepsi bahwa perzinaan pun dibenarkan, sex pranikah bukanlah hal yang tercela dilakukan ketika pacaran.

Contoh diatas adalah model penggiringan opini yang marak dilakukan oleh televisi. Bukan hanya produksi dalam negeri, stasiun televisi Indonesia mulai mengimpor acara jenis ini dari negeri-negeri barat, yang kental dengan pemikiran liberal. Metode ini amat halus dan tidak terasa, karena dikemas dalam bentuk obrolan, sehingga tidak terkesan mendikte. Akan tetapi, metode ini cukup ampuh dalam membentuk pola pikir mayoritas kaum muslimin, yang notabene masih awam ilmu agamanya, yang masih susah memilah mana yang benar dan mana yang salah menurut syariat.

Live Music

Dipandu oleh MC yang kebanci-bancian, acara yang isinya hanya bercanda dan main-main ini benar-benar menampilkan suramnya generasi muda kita. Mengenakan kaos-kaos warna mencolok dan celana ketat, dipandu oleh band ibukota yang sedang naik daun, para remaja tersebut berteriak-teriak menyanyikan lirik-lirik cinta (baca : zina) sambil melompat-lompat seirama dengan dentuman bass dari speaker-speaker besar.

Krisis identitas pemuda? Ya!! Karena acara ini dilakukan secara live pada pagi hari, saat dimana orang sibuk bekerja dan serius menuntut ilmu, tapi mereka hanya asyik bermain-main sambil mengikuti trend berpakaian, seakan-akan tidak ada tanggung jawab di pundak mereka, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Infotainment (Gosip)

Nikah cerai, rebutan hak asuh anak, hingga skandal mesum yang dilakukan oleh para artis, sudah menjadi bahan obrolan yang lumrah di tengah – tengah kita. Perbuatan ghibah, membicarakan aib orang lain, malah menjadi aktifitas yang utama. Acara ini terus berusaha mencari-cari kesalahan orang lain, yang membentuk karakter kita, untuk selalu memandang orang lain dari aibnya, tidak melihat kebaikannya, bahkan menyebarluaskan aib tersebut.

Dan yang lebih berbahaya lagi, maraknya pemberitaan aib-aib para selebritis yang dijadikan panutan dan idola, secara tidak langsung telah membentuk pola pikir kita, bahwa apa yang dilakukan mereka itu benar. Apalagi dengan berbagai alibi dan alasan yang disampaikan selebritis tersebut untuk membenarkan perbuatan tercelanya.

Sinetron

Mengedepankan gaya hidup mewah nan glamour dan konflik percintaan, acara ini mendominasi prime time (antara maghrib- pukul 22.00 WIB), waktu berkumpulnya keluarga untuk beristirahat. Sudah banyak masyarakat yang resah dengan adanya sinetron-sinetron yang tidak mendidik ini, karena membuat kita menjadi panjang angan-angan, ingin hidup mewah, dan hanya memikirkan masalah asmara dengan lawan jenis (baca :zina).

Belum lagi sinetron dengan judul islami, yang hanya sebagai kedok acara mistik sesat, yang menggambarkan bahwa seorang ustadz itu hanya sebagai pengusir jin. Yang menggambarkan bahwa azab Allah itu sangat pedih, tanpa diimbangi dengan rahmatNya yang luas.

Reality Show

Acara model ini menempati rating yang cukup tinggi. Isinya hanya berkutat masalah konflik asmara, problem rumah tangga, atau hanya sekedar humor menjahili orang.

Komisi Penyiaran Indonesia dulu pernah menegur jenis acara seperti ini, karena isinya yang syarat dengan kata-kata kotor dan kekerasan.

Beberapa contoh acara yang diuraikan diatas, sejatinya adalah contoh kesia-siaan yang nyata. Lebih dari itu, darinya justru menjadi penyebaran kefasiqan, kekufuran, kesesatan yang tidak bisa ditolerir dari syariat Alloh dan Rasul-Nya. Ketika rutinitas kaum muslimin terus menerus disibukan oleh model-model (acara, artis, film) fasiq yang tidak mengerti agama Alloh, sungguh jiwa manusia yang rapuh akan menirunya. Hal itulah yang menciptakan pribadi-pribadi pembangkang kepada syariat Alloh, pengambil hak orang lain, anak yang durhaka, istri yang tidak patuh, suami yang tidak memenuhi hak keluarga, dan seterusnya. Ketika masyarakat ini tidak memiliki pondasi yang utuh tentang pemahaman agama yang lurus, maka musibah ini bukan hanya akan menimpa pribadi-pribadi tertentu saja, namun akan menjadi musibah secara umum. Bukan hanya kepada orang yang fasiq, namun musibah ini juga berimbas pada orang-orang shalih di antara mereka.

Sebagai penutup, seorang ulama besar hadits pernah memberikan penilaiannya tentang keberadaan televisi :

“Televisi dewasa ini, 99% banyak menayangkan nilai-nilai atau faham-faham kefasikan, perbuatan dosa, nyanyian haram, ataupun perbuatan yang mengumbar hawa nafsu, dan lain-lain sejenisnya. Hanya 1 % tayangan televisi yang dapat diambil manfaatnya. Jadi kesimpulan hukum televisi itu dilihat dari penayangan yang dominan”

(Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, al Ashalah 10/15 Syawal 1414 H hal. 40)

sumber: tashfiyah.net

copied from here

25/12/2010

Pertanda Buruk Telah datang hinggap di dalam dadaku

Ketika waktu subuh berlalu begitu saja
Ketika wanita lewat di depan mata dengan santainya
Ketika bibir berucap yang bukan haknya
Ketika mata melihat yang bukan areanya

Mulailah meradang penyakit-penyakit hati
Berpikir jadi sulit untuk memecahkan masalah
Hati terasa gelisah dan tidak tenang
Tidak sabaran dan terge-gesa

Bingung akan berlaku apa dan mau bagaimana
Arah menjadi kabur dan membingungkan
Apalah arti semua ini bila membuat jiwa terasa gersang
Tidak menentu segala yang dilakukan

Aku ingin berpindah
Pindah di jalan yang Engkau Ridhoi
Jalan yang Engkau mulyakan
Bukan jalan yang berliku, sesat lagi Engkau Murkai

Aku ingin Kembali…..!