Pak Dosen, tolong hargai mahasiswamu ini

Hari ini saya mendapat berita mengejutkan bahwa tugas yang saya kerjakan ternyata salah. Tugas-tugas sebelumnya memang juga sering salah namun kali ini membuat saya bersedih bahkan hingga menitikan air mata karena saking terharunya. Dulu saya membuat program untuk ujian D3 dan mencari algoritma yang sulitnya bukan main ngga sampai pakai acara nangis segala. Ini cuma hunting foto saja sedihnya dari pagi sampai sore. Kenapa?

Proses pencarian tugas itu yang merupakan perjuangan ditengah terik matahari menyengat, naik motor jauhnya diiringi tak tahu jalanan(ikut temen saja). Dan ternyata setelah tahu bahwa dari 3 tempat pengambilan foto(tugas) saya cuma harus mengambil disalah satu tempat saja(spechless). Pengumuman tugasnya salah T.T. Belum lagi ini sebenarnya tugas kelompok namun demi menghemat waktu saya kerjakan sendiri.

Memang saya juga salah mengupload foto sendiri yang seharusnya foto dari model(orang lain selain saya). Namun itu sebagai antisipasi kebingungan anggota kelompok lain karena saya diajak teman saya yang notabene kelompok lain tugasnya. (Kebiasaan menjadi programmer membuat otak saya agak aneh).

Setelah semua diupload dosen justru berkata, “ini foto model apa turis”. Saat membaca komentar itu(tugas diupload di FB) saya sedihnya bukan main, sayapun menjawab “ha? perjuanganku tak dihargai,… ngelus dada dan bathuk(jidat) T.T”. Mungkin itu luapan emosi saya yang sudah tidak terbendung lagi. Kemudian saya lanjutkan dengan kata “Nelangsa,…”

Betapa tidak nelangsa diri saya, mengerjakan tugas itu tidak gratis. Masuk tempat wisata ada tiket masuknya. Naik motor ada ongkosnya. Terik mata hari yang membuat kepala senut-senut, dan rasa capek menyelimuti kesana-kemari. Hal yang saya ingat tentu saja bapak saya yang bekerja siang malam, saya merasa menjadi anak yang tak berguna. Saya rela dihina tapi tolong jangan buat orang tua saya kecewa terhadap saya. Ibu saya juga terbersit dalam pikiran saya. “Ma, maapin anakmu ini kuliah rasanya koq jadi begini. Sudah kulakukan yang terbaik tapi malah lebih baik yang tidak mengerjakan”.

Saya heran dosen tak mengkritik mereka yang tak mengerjakan tugas, ada pula yang mengerjakan tugas lain yang notabene tidak sesuai kriteria, saya sudah berjuang sebaik-baiknya sampai tidak ada kuliahpun saya berangkat cuma karena takut tidak bisa mengikuti perkuliahan. Saya capek dengan tugas yang bapak berikan dengan parameter yang nisbi, tidak jelas. Harusnya diberika silabus sejak awal semester sehingga mahasiswa tidak kelimpungan begini. Sebuah tugas dianggap memenuhi dengan syarat apa? tolong jelaskan pak? jangan tidak jelas begini!

Saya akui saya salah mengerjakan tugas, namun kata-kata bapak seakan berkata “Tugas apa kayak gini, kayak cuma orang plesiran saja.”. Asal bapak tau pak, kalaupun tak ada tugas ini saya tidak akan mau ke tempat itu. Saya juga ngga tau jalannya. Saya sudah mengusahakan yang terbaik. Hargailah sedikit pak mahasiswamu ini. Banyak yang kecewa dengan bapak tapi tak mau bicara. Saya sudah merasa sangat dirugikan dengan kondisi ini. Saya sudah muak dengan sikap bapak yang cuek selama ini dengan penderitaan para mahasiswa bapak.

Sejak awal semester bapak sudah tidak membuat pemerataan penggunaan alat. Apa bapak tidak berpikir tidak semua mahasiswa punya kamera sebagus punya bapak? Tak adakah standar lain? Saya sudah cukup merepotkan orang tua saya. Sudah cukup tidak untuk yang lain lagi. Beberapa waktu lalu juga sempat kisruh di acara seminar fotografi. Kenapa tak memberi opsi lain? padahal sudah ingin untuk membayar kenapa tak boleh ikut? dan kisruh2 lainnya.

Luapan semua ini mungkin juga karena saya mendapatkan tugas kelompok terlalu banyak baik dari bapak pada khususnya dan dari dosen lain. Mungkin hampir 10 tugas kelompok saya kerjakan sendiri semua. Saya sudah capek saat meminta anggota mengerjakan namun beralasan macam-macam menolak dan sialnya lagi tak dikerjakan. namun tugas bapak memang paling aneh, tidak ada standar yang jelas. Ini bukan cuma saya saja yang mengeluhkan.

Pak, saya bukan mahasiswa kaya yang bisa beli kamera DSLR, saya juga bukan mahasiswa yang kreatif dalam bidang seni fotografi, saya juga bukan koreografer handal yang bisa mengatur model dengan baik, saya kesini untuk jadi PROGRAMMER bukan jadi FOTOGRAFER. Saya kuliah di IT bukan di ISI Fotografi pak,…

Saya sudah melakukan yang terbaik dari seabreg tugas yang bapak inginkan. Saya lebih baik dari mereka yang cuma nitip nama atau bahkan tidak mengerjakan tugas. Saya akan bertanya jika saya bingung dengan penjelasan bapak yang seringkali ambigu. Tapi tolong jangan buat saya merasa bersalah terhadap orang tua saya, kuliah itu mahal pak tidak gratis. Tolong sedikit saja hargai mahasiswamu ini dan semua mahasiswa lain yang sudah berusaha mengerjakan tugas-tugasmu yang tak tentu arah.

Berikan tugas yang jelas, parameter yang jelas, kuantitas yang jelas,… cuma itu pinta kami pak dosen,… tidak usah hargai mahasiswamu tidak apa-apa asalkan kau berikan 3 hal itu agar memudahkan kami.

Sekali lagi pak, kita kuliah komputer disini bukan jadi fotografer.

“Bapak dan Ibuku, maafkan anakmu ini yang tidak becus kuliah dan mengikuti amanah agar jangan suka protes. Kali ini Dosen sudah keterlaluan. Makanya saya protes,…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: