“Tiada seorang mu’min yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).

  1. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  2. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  3. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  4. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  5. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  6. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  7. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  8. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  9. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  10. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  11. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  12. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  13. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  14. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  15. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  16. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  17. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  18. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  19. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  20. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  21. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  22. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  23. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  24. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  25. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  26. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  27. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  28. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  29. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  30. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  31. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  32. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  33. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  34. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  35. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  36. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  37. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  38. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  39. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  40. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  41. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  42. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  43. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  44. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  45. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  46. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  47. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  48. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  49. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  50. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  51. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  52. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  53. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  54. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  55. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  56. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  57. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  58. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  59. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  60. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  61. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  62. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  63. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  64. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  65. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  66. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  67. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  68. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  69. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  70. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  71. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  72. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  73. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  74. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  75. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  76. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  77. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  78. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  79. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  80. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  81. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  82. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  83. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  84. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  85. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  86. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  87. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  88. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  89. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  90. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  91. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  92. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  93. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  94. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  95. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  96. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  97. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  98. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  99. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  100. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  101. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  102. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  103. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  104. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  105. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  106. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  107. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  108. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  109. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  110. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  111. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  112. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  113. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  114. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  115. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  116. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  117. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  118. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  119. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  120. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  121. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  122. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  123. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  124. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  125. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  126. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  127. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  128. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  129. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  130. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  131. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  132. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  133. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  134. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  135. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  136. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  137. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  138. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  139. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  140. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  141. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  142. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  143. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  144. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  145. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  146. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  147. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  148. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  149. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  150. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  151. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  152. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  153. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  154. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  155. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  156. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  157. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  158. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  159. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  160. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  161. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  162. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  163. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  164. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  165. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  166. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  167. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  168. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  169. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  170. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  171. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  172. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  173. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  174. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  175. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  176. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  177. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  178. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  179. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  180. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  181. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  182. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  183. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  184. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  185. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  186. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  187. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  188. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  189. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  190. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  191. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  192. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  193. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  194. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  195. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  196. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  197. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  198. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  199. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  200. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  201. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  202. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  203. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  204. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  205. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  206. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  207. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  208. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  209. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  210. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  211. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  212. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  213. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  214. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  215. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  216. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  217. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  218. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  219. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  220. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  221. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  222. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  223. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  224. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  225. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  226. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  227. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  228. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  229. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  230. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  231. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  232. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  233. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  234. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  235. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  236. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  237. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  238. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  239. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  240. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  241. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  242. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  243. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  244. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  245. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  246. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  247. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  248. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  249. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  250. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  251. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  252. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  253. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  254. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  255. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  256. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  257. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  258. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  259. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  260. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  261. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  262. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  263. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  264. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  265. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  266. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  267. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  268. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  269. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  270. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  271. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  272. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  273. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  274. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  275. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  276. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  277. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  278. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  279. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  280. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  281. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  282. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  283. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  284. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  285. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  286. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  287. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  288. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  289. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  290. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  291. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  292. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  293. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  294. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  295. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  296. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  297. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  298. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  299. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  300. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  301. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  302. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  303. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  304. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  305. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  306. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  307. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  308. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  309. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  310. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  311. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  312. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  313. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  314. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  315. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  316. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  317. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  318. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  319. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  320. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  321. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  322. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  323. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  324. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  325. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  326. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  327. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  328. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  329. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  330. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  331. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  332. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  333. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  334. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  335. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  336. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  337. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  338. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  339. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  340. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  341. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  342. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  343. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  344. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  345. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  346. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  347. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  348. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  349. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  350. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  351. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  352. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  353. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  354. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  355. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  356. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  357. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  358. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  359. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  360. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  361. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  362. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  363. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  364. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  365. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  366. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  367. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  368. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  369. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  370. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  371. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  372. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  373. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  374. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  375. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  376. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  377. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  378. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  379. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  380. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  381. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  382. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  383. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  384. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  385. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  386. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  387. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  388. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  389. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  390. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  391. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  392. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  393. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  394. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  395. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  396. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  397. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  398. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  399. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  400. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  401. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  402. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  403. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  404. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  405. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  406. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  407. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  408. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  409. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  410. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  411. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  412. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  413. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  414. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  415. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  416. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  417. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  418. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  419. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  420. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  421. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  422. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  423. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  424. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  425. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  426. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  427. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  428. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  429. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  430. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  431. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  432. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  433. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  434. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  435. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  436. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  437. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  438. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  439. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  440. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  441. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  442. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  443. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  444. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  445. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  446. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  447. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  448. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  449. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  450. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  451. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  452. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  453. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  454. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  455. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  456. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  457. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  458. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  459. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  460. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  461. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  462. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  463. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  464. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  465. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  466. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  467. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  468. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  469. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  470. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  471. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  472. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  473. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  474. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  475. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  476. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  477. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  478. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  479. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  480. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  481. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  482. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  483. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  484. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  485. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  486. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  487. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  488. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  489. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  490. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  491. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  492. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  493. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  494. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  495. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  496. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  497. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  498. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  499. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  500. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  501. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  502. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  503. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  504. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  505. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  506. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  507. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  508. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  509. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  510. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  511. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  512. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  513. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  514. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  515. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  516. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  517. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  518. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  519. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  520. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  521. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  522. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  523. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  524. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  525. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  526. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  527. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  528. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  529. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  530. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  531. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  532. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  533. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  534. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  535. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  536. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  537. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  538. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  539. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  540. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  541. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  542. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  543. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  544. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  545. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  546. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  547. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  548. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  549. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  550. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  551. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  552. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  553. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  554. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  555. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  556. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  557. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  558. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  559. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  560. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  561. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  562. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  563. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  564. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  565. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  566. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  567. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  568. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  569. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  570. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  571. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  572. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  573. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  574. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  575. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  576. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  577. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  578. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  579. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  580. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  581. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  582. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  583. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  584. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  585. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  586. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  587. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  588. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  589. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  590. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  591. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  592. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  593. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  594. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  595. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  596. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  597. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  598. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  599. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  600. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  601. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  602. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  603. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  604. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  605. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  606. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  607. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  608. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  609. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  610. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  611. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  612. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  613. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  614. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  615. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  616. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  617. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  618. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  619. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  620. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  621. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  622. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  623. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  624. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  625. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  626. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  627. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  628. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  629. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  630. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  631. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  632. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  633. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  634. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  635. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  636. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  637. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  638. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  639. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  640. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  641. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  642. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  643. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  644. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  645. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  646. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  647. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  648. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  649. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  650. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  651. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  652. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  653. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  654. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  655. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  656. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  657. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  658. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  659. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  660. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  661. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  662. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  663. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  664. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  665. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  666. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  667. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  668. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  669. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  670. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  671. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  672. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  673. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  674. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  675. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  676. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  677. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  678. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  679. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  680. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  681. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  682. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  683. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  684. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  685. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  686. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  687. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  688. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  689. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  690. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  691. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  692. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  693. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  694. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  695. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  696. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  697. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  698. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  699. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  700. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  701. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  702. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  703. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  704. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  705. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  706. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  707. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  708. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  709. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  710. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  711. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  712. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  713. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  714. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  715. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  716. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  717. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  718. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  719. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  720. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  721. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  722. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  723. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  724. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  725. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  726. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  727. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  728. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  729. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  730. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  731. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  732. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  733. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  734. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  735. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  736. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  737. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  738. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  739. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  740. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  741. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  742. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  743. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  744. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  745. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  746. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  747. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  748. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  749. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  750. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  751. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  752. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  753. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  754. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  755. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  756. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  757. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  758. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  759. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  760. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  761. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  762. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  763. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  764. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  765. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  766. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  767. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  768. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  769. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  770. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  771. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  772. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  773. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  774. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  775. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  776. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  777. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  778. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  779. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  780. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  781. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  782. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  783. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  784. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  785. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  786. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  787. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  788. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  789. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  790. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  791. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  792. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  793. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  794. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  795. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  796. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  797. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  798. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  799. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  800. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  801. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  802. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  803. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  804. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  805. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  806. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  807. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  808. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  809. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  810. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  811. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  812. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  813. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  814. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  815. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  816. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  817. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  818. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  819. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  820. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  821. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  822. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  823. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  824. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  825. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  826. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  827. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  828. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  829. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  830. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  831. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  832. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  833. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  834. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  835. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  836. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  837. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  838. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  839. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  840. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  841. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  842. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  843. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  844. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  845. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  846. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  847. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  848. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  849. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  850. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  851. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  852. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  853. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  854. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  855. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  856. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  857. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  858. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  859. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  860. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  861. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  862. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  863. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  864. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  865. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  866. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  867. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  868. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  869. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  870. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  871. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  872. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  873. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  874. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  875. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  876. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  877. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  878. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  879. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  880. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  881. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  882. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  883. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  884. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  885. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  886. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  887. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  888. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  889. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  890. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  891. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  892. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  893. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  894. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  895. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  896. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  897. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  898. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  899. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  900. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  901. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  902. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  903. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  904. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  905. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  906. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  907. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  908. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  909. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  910. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  911. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  912. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  913. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  914. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  915. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  916. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  917. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  918. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  919. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  920. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  921. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  922. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  923. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  924. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  925. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  926. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  927. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  928. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  929. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  930. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  931. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  932. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  933. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  934. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  935. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  936. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  937. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  938. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  939. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  940. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  941. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  942. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  943. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  944. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  945. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  946. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  947. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  948. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  949. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  950. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  951. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  952. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  953. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  954. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  955. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  956. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  957. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  958. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  959. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  960. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  961. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  962. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  963. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  964. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  965. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  966. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  967. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  968. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  969. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  970. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  971. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  972. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  973. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  974. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  975. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  976. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  977. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  978. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  979. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  980. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  981. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  982. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  983. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  984. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  985. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  986. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  987. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  988. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  989. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  990. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  991. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  992. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  993. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  994. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  995. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  996. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  997. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  998. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  999. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
  1000. “Tiada seorang mukmin yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah SWT menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: